Cinta Pertamaku

Ayah kebanggaanku

0
606

Dia bukanlah laki-laki yang sempurna, tapi bagiku dia adalah laki-laki yang terbaik, laki-laki cinta pertamaku dan hingga akhir hayat. Dia dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang berdagang dan bertani. Sebagai anak ke-2 dari 6 bersaudara yang laki-laki semua, dia mendapat tugas yang khusus dari orang tuanya. Tugas khusus tersebut seputar membersihkan rumah memasak, mencuci, dan lainnya, yang pada umumnya dilakukan oleh perempuan, namun karena memang saat itu ibunya harus berdagang maka peran-peran itu diambil alih olehnya.

Ayah, itulah panggilanku kepadanya. Sebagai anak perempuan pertamanya, maka ayah mendapatkan panggilan dari keluarga yaitu dengan melekatkan namaku, sehingga akupun disebut boru panggoaran dalam suku Batak. Setelah aku besar, aku baru tahu bahwa ayah memang memiliki keinginan anak pertamanya adalah anak perempuan, alasannya agar nanti bisa membimbing adik-adiknya.

Ayahlah yang menentukan nama yang unik untukku, Ayah ingin aku menjadi seseorang yang nantinya terkenal dan ayah juga menyukai bunga anggrek sehingga namaku menyerupai bunga anggrek. Sejak kecil Ayah mendidikku untuk menjadi seorang anak yang mandiri dan Ayah selalu memastikan agar aku tetap bisa melakukan apapun yang aku inginkan selama itu membawa kebaikan.

Kedekatan kami terbangun dengan aktivitas-aktivitas ringan, misal Ayah suka memintaku untuk memijak punggungnya karena mungkin saat itu ada kenikmatan saat punggung di pijak-pijak pengganti dari mengurut, kemudian kegiatan lainnya adalah Ayah suka membangunkan kami dan kemudian menggendong kami di atas punggungnya.Dan juga Ayah suka mengajakku untuk olahraga jalan pagi, beberapa kali ayah pernah mengajak nonton di bioskop, Ayah juga suka bercerita tentang banyak hal, di antaranya cerita masa masa kerajaan, cerita tentang sejarah-sejarah, karena ayah senang sekali membaca jadi banyak hal juga dari kecil aku dengar dari cerita-cerita ayah.

Mengingat masa mudanya, Ayah sangat suka mengerjakan pekerjaan rumah, dan kebiasaan itu terbawa sampai menikah dan mempunyai anak, ayah sangat rajin untuk menyapu, merapikan barang-barang yang berserakan, kerja sama antara ayah dan mama dalam mengurus dan membersihkan rumah itu sangat luar biasa, sampai-sampai aku berpikir apakah aku bisa memiliki suami yang seperti ayah, yang bisa bekerjasama dengan istri untuk mengurus rumah tangga. Saat itu, ayah adalah kontraktor, ya walaupun hanya kontraktor kecil-kecilan, tapi Ayah terkenal dengan karya yang menghasilkan bangunan rumah yang sangat rapi, baik kualitasnya dan desainnya, karena Ayah mengerjakan itu tidak mau sembarangan.

Di hari tuanya ini, Alhamdulillah Ayah juga masih dalam keadaan sehat dan masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas. Meskipun tidak ada kerja sebagai kontraktor lagi, Ayah masih suka bertukang misalkan membuat lemari, merapikan atau merenovasi rumah sendiri, hal ini yang paling aku syukuri, karena nikmat kesehatan dan kekuatan itu bagiku adalah kebahagiaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini